Artikel
Artikel
Presiden dan Hobi Berkebun untuk Lingkungan
Penulis: Arie Januar dan Kurniawan Ivan Prasetyo
“Aku mendambakan bernaung di bawah pohon yang rindang, dikelilingi oleh alam yang indah, di samping sebuah sungai dengan udara segar dan pemandangan bagus”
– Presiden Sukarno –
Presiden Republik Indonesia memiliki berbagai hobi yang mencerminkan kecintaan terhadap alam. Salah satu hobi yang mungkin belum banyak orang mengetahui adalah berkebun. Berkebun bukan hanya menanam pohon, melainkan juga merawat dan menjaga ekosistem lingkungan. Presiden Republik Indonesia memiliki hobi ini, dan bahkan kebiasaannya melahirkan berbagai karya inovasi yang inspiratif dalam pelestarian lingkungan yang berkelanjutan.
Beberapa Presiden Republik Indonesia memiliki hobi berkebun yang telah dilakukan sejak masa kecil. Presiden Sukarno merupakan sosok pecinta lingkungan yang cukup aktif menanam pohon di sela kunjungannya. Kebiasaan menanam pohon berawal dari pandangannya bahwa bumi adalah rumah bersama manusia yang ekosistemnya perlu dijaga dan dilestarikan.
Saat menjadi presiden, perhatiannya terhadap hutan tertuang dalam Kongres Boeroeh Kehoetanan di Malang tahun 1946. Dalam Harian Merdeka 1 Oktober 1946, yang dikutip dari Historia.id, Sukarno berkata “350 tahun kita tak bernegara. Kita ingin hidup bernegara. Kita berjuang menumpahkan darah untuk hidup. Hidup minta makan, makan minta padi, padi minta hutan. Tidak ada hutan, tidak ada sumber, tidak ada air”.
Perhatian Sukarno sangat tinggi terhadap tanaman dan pepohonan yang ada disekitarnya. Menurut Bambang Widjanarko dalam Sewindu Dekat Bung Karno yang dikutip historia.id, Sukarno kerap marah jika ada tanaman yang rusak atau terlantar. Jika ada tanaman atau pohon ada yang rusak, Ia pasti akan memanggil tukang kebun untuk memperbaiki dan merawatnya. Kecintaan terhadap tanaman terus Ia lakukan hingga akhir hayatnya. Bahkan dalam wasiatnya, Ia ingin dimakamkan di tempat yang teduh, dekat dengan alam dan rakyat.
Sebagai seorang yang berlatar belakang dari desa, Presiden Soeharto juga memiliki kegemaran berkebun dan menanam di sawah. Saat menjabat sebagai presiden, cita-cita Presiden Soeharto adalah menjaga ketahanan pangan. Kebijakan ini diwujudkan melalui program strategis “Revolusi Hijau”, swasembada pangan, dan pengembangan agrowisata Taman Buah Mekar Sari. Selain sektor pertanian, fokus Presiden Soeharto terkait lingkungan tercermin melalui Gerakan Satu Juta Pohon. Gerakan Satu Juta Pohon pertama kali dicanangkan pada tahun 1993 oleh Presiden Soeharto sebagai bentuk respons terhadap meningkatnya laju kerusakan hutan dan degradasi lingkungan yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Dengan cara sederhana, tanah air menjadi hijau dan ekosistem lingkungan terjaga dan terhindar dari kepunahan.
Presiden Megawati Soekarnoputri juga dikenal sangat gemar berkebun. Kecintaan terhadap tanaman tak terlepas dari kegemaran sang ayah, yang diturunkan ke beliau hingga saat ini. Bagi Presiden Megawati Soekarnoputri pelestarian alam dan ekosistemnya sangat bermanfaat bagi kelangsungan hidup manusia. Oleh karena itu, setiap pembangunan yang dilakukan harus didasarkan pada analisis dampak terhadap lingkungan.
Presiden Megawati Soekarnoputri sangat aktif dalam konservasi tumbuhan, Ia bahkan mendirikan Yayasan Kebun Raya Bogor sebagai upaya pelestarian lingkungan. Peresmian Griya Anggrek Kebun Raya Bogor oleh Presiden Megawati Soekarnoputri pada tahun 2002, menjadi bukti kepedulian Presiden Megawati dalam upaya konservasi alam. Upaya ini kemudian dilanjutkan dengan dikeluarkannya sejumlah peraturan hukum, peresmian sejumlah lembaga konservasi tumbuhan, kampanye lingkungan hidup, hingga pemikiran ekologi.
Presiden Abdurrahman Wahid merupakan salah satu presiden yang memiliki visi ekologi kuat. Visi ekologi Presiden Abdurrahman Wahid dilandasi perspektif nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Islam, seperti ajaran hifdzul bi’ah (menjaga lingkungan) dan kaidah “menghindari kerusakan lebih diutamakan daripada mendatangkan kemaslahatan”.
Pandangan Presiden Abdurrahman Wahid berlandaskan pada keadilan sosial. Kerusakan alam seringkali merugikan masyarakat kecil. Untuk itu, Ia menekankan pentingnya pemberdayaan masyarakat dalam upaya pengelolaan lingkungan, sehingga semua orang dapat memiliki kesempatan untuk memanfaatkan alam tanpa harus merusaknya.
Langkah konkret untuk menggalakan kepedulian terhadap lingkungan juga dilakukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2008 tentang Hari Menanam Pohon Indonesia. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dikenal aktif dalam isu lingkungan, baik saat menjabat Presiden ke-6 RI maupun setelahnya. Fokus beliau pada mitigasi perubahan iklim, moratorium hutan, dan penanaman pohon.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga kerap terlibat aktif dalam kegiatan penanaman pohon di sejumlah tempat. Hobi inipun kerap dilakukan bersama sang istri dalam berbagai kesempatan, baik di rumah maupun di lingkungan Istana Kepresidenan.
Referensi:
Adams, Cindy. 2011. Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Jakarta: Yayasan Bung Karno
Widjanarko, B. 2010. Sewindu Dekat Bung Karno. Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Arief, Teuku Muhammad Valdy. 2017. Tak Cuma Politik, Megawati Juga Hobi Merawat Tanaman. Dalam https://kumparan.com/kumparannews/tak-cuma-politik-megawati-juga-hobi-merawat-tanaman/full. Diakses 2 April 2026
Kusumo, Rizky. 2022. Gerakan Satu Juta Pohon dan Cara Pandang Soeharto Melihat Lingkungan. Dalam https://www.goodnewsfromindonesia.id/2022/01/09/gerakan-satu-juta-pohon-dan-cara-pandang-soeharto-melihat-lingkungan. Diakses 2 April 2026
Mukhti, M.F., 2015. Kisah Sukarno dan Pohon-pohonnya. Dalam https://www.historia.id/article/kisah-sukarno-dan-pohon-pohonnya-vybva. Diakses 1 April 2026
Prasetyo, Kurniawan I. 2022. Presiden Soeharto dan Swasembada Pangan. Dalam https://museumkepresidenan.id/artikel/swasembada-pangan/#:~:text=Selain%20menggerakkan%20intensifikasi%20dan%20ekstensifikasi,swasembada%20pangan%20pada%20tahun%201984. Diakses 2 April 2026
Rohiman, Ahmad. 2025. Taubat Ekologis: Lingkungan sebagai Amanah Sosial. Dalam https://gusdurian.net/2025/01/31/taubat-ekologis-lingkungan-sebagai-amanah-sosial/. Diakses 2 April 2026
Artikel
PRESIDEN DAN BUKU-BUKUNYA
Penulis: Kurniawan Ivan Prasetyo
PRESIDEN SUKARNO
Buku merupakan bagian penting yang tak dapat dipisahkan dari perjalanan intelektualitas Presiden Sukarno. Kegemaran Presiden Sukarno dalam membaca buku dimulai sejak indekos di rumah H.O.S. Tjokroaminoto. Di sana, Sukarno memperoleh buku-buku bacaan dari H.O.S. Tjokroaminoto. Selain itu, Sukarno juga memanfaatkan akses perpustakaan teosofi dengan menggunakan kartu anggota sang ayah.
Melalui buku, Presiden Sukarno bertemu dengan sejumlah pemikir besar dunia seperti Durante Degli Alighieri, Giuseppe Madzini, Karl Marx, Rosa Luxembourg, Wilhelm Liebknecht, William Ewart Gladstone, hingga Konrad Adenauer. Sukarno tidak semata-mata menjiplak total gagasan dan pemikiran para tokoh tersebut, namun ia banyak memberikan koreksi dan alternatif pemikiran sesuai dengan konteks keadaan sehingga proses dialektis terjadi.
Selain membaca, Presiden Sukarno juga banyak menulis artikel hingga kumpulan artikel yang ditulis Presiden Sukarno sudah banyak dibukukan. Beberapa tulisan Presiden Sukarno adalah Mencapai Indonesia Merdeka, Lahirnya Pancasila, Sarinah, Di Bawah Bendera Revolusi, Mustikarasa, hingga Islam Sontoloyo.
PRESIDEN SOEHARTO
Presiden Soeharto, sang Bapak Pembangunan, memiliki kebiasaan dalam membaca koran, majalah serta laporan-laporan ringkas yang disiapkan oleh stafnya. Selain itu, beliau juga memiliki kepedulian yang tinggi terhadap pemberantasan buta huruf di Indonesia. Hal tersebut dilakukan dengan pembentukan kelompok belajar atau Kejar. Kejar adalah program pengenalan huruf dan angka bagi kelompok masyarakat buta huruf yang berusia 10-45 tahun dengan tujuan agar bisa membaca dan menulis.
Berdasarkan data dan statistik, program kejar berhasil menurunkan angka buta huruf di Indonesia. Pada sensus tahun 1971, dari total jumlah penduduk 80 juta jiwa, Indonesia masih memiliki 39,1 persen penduduk usia 10 tahun ke atas yang buta huruf. Selanjutnya, pada tahun 1980, persentase angka buta huruf Indonesia menurun menjadi 28,8 persen. Dan pada tahun 1990, angka buta huruf semakin menurun menjadi 15,9 persen.
Pemikiran dan pandangan Presiden Soeharto pernah ditulis dalam beberapa buku, seperti “Butir-Butir Budaya Jawa” yang terbit pada tahun 1987. Buku tersebut berisi mengenai filosofi serta ajaran-ajaran luhur budaya Jawa. Selain itu ada juga buku berjudul “Soeharto : Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya”. Buku ini ditulis oleh G. Dwipayana dan Ramadhan K.H. pada tahun 1989 berdasarkan cerita langsung dari Presiden Soeharto.
PRESIDEN B.J. HABIBIE
Presiden B.J. Habibie, sang Bapak Teknologi, merupakan sosok yang memiliki rasa ingin tahu dan penasaran tinggi. Untuk menjawab rasa penasaran dan rasa ingin tahu, Presiden B.J. Habibie menjadikan buku sebagai jawabannya. Diketahui Presiden B.J. Habibie menghabiskan 7,5 jam sehari untuk membaca buku. Berbagai jenis buku selalu dibaca oleh Presiden B.J. Habibie, mulai dari buku tentang ilmu teknik hingga buku tentang ilmu alam. Buku pertama yang senang dibacanya berjudul “Mengelilingi Dunia Dalam 80 Hari” karya penulis Prancis Jules Verne. Buku tersebut merupakan hadiah dari sang ayah.
Presiden B.J. Habibie juga memiliki perpustakaan pribadi di kediamannya, Jalan Patra Kuningan XIII, Jakarta Selatan. Di perpustakaan Habibie Ainun tersebut terdapat banyak koleksi buku dengan berbagai bahasa yang menemani perjalanan intelektual seorang B.J. Habibie.
Selain membaca, Presiden B.J. Habibie juga banyak menulis buku. Beberapa buku karya beliau adalah Detik-Detik Yang Menentukan: Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi, Habibie & Ainun, Ilmu Pengetahuan, Teknologi & Pembangunan Bangsa: Menuju Dimensi Baru Pembangunan Indonesia, Economic Cooperation for Regional Stability.
PRESIDEN ABDURRAHMAN WAHID
Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), sang Bapak Keberagaman, memiliki hobi membaca buku sejak usia muda. Hal tersebut tidak terlepas dari lingkungan keluarga yang memang memiliki kepedulian tinggi terhadap budaya literasi. Gus Dur sering menghabiskan waktunya di perpustakaan untuk membaca berbagai macam buku, mulai dari politik, filsafat, hingga sastra.
Beberapa buku yang pernah dibaca Gus Dur adalah buku karya Karl Marx, Lenin, William Faulkner, novel-novel karya Ernest Hemingway, puisi karya Edgar Allan Poe dan John Done, Andre Gide, Kafka, Tolstoy, Pushkin, dan masih banyak lagi. Keberagaman bacaan Gus Dur tersebut yang mempengaruhi pemikiran Gus Dur terutama seputar pluralisme. Selain membaca buku secara langsung, Gus Dur juga memiliki kebiasaan mendengarkan audio book. Sebelum tidur bahkan ketika sakit, Gus Dur tetap rutin mendengarkan audio book.
Gus Dur juga aktif dalam menulis, banyak tulisan-tulisan dari Gus Dur yang dimuat di majalah, surat kabar, bahkan dibukukan. Beberapa karya Gus Dur antara lain Islamku, Islam Anda, Islam Kita, Pergulatan Negara Agama dan Kebudayaan, Tuhan Tidak Perlu Dibela, Islam Kosmopolitan, Nilai-nilai Indonesia dan Transformasi Kebudayaan.
PRESIDEN MEGAWATI SOEKARNOPUTRI
Presiden Megawati Soekarnoputri, sang Ibu Penegak Konstitusi, diketahui memiliki kebiasaan membaca majalah dan koran. Dalam berbagai kesempatan, Presiden Megawati Soekarnoputri selalu menekankan pentingnya membaca buku untuk memperluas pengetahuan. Presiden Megawati Soekarnoputri memiliki kontribusi dalam kemajuan dunia pendidikan. Pada tahun 2003, Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disahkan.
Salah satu muatan penting yang terdapat dalam UU tersebut adalah kewajiban negara negara dalam menyediakan 20 persen APBN dan APBD untuk dunia pendidikan. Tujuan regulasi tersebut adalah peningkatan kualitas pendidikan dasar, peningkatan kesamaan kesempatan memperoleh pendidikan bagi keluarga kurang mampu, meningkatkan kualitas dan relevansi pendidikan tinggi, meningkatkan kinerja personel dan lembaga pendidikan, serta menuntaskan wajib belajar 9 tahun.
Gagasan-gagasan dan pemikiran Presiden Megawati Soekarnoputri pernah dibukukan dalam “Pokok-Pokok Pikiran Megawati: Bendera Sudah Saya Kibarkan” dan dirilis pada tahun 1993. Dalam buku tersebut, Megawati Soekarnoputri memaparkan tujuh pokok pemikirannya, salah satunya menyangkut tentang pendidikan.
PRESIDEN SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sang Bapak Perdamaian, memiliki hobi membaca sejak usia muda. Diketahui sejak masih berpangkat Letnan Dua, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selalu membeli buku-buku apapun untuk dibaca, bahkan ketika beberapa kali melakukan perjalanan dinas, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga selalu rajin membeli dan membaca buku.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga memiliki perpustakaan pribadi dan jumlah koleksi buku sebanyak 16 ribu judul. Buku-buku tersebut beragam mulai dari politik, ekonomi, kebudayaan, dan masih banyak lagi. Pada tahun 2006, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga mencanangkan Gerakan Pemberdayaan Perpustakaan di Masyarakat. Selain mencanangkan gerakan pemberdayaan perpustakaan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga mencanangkan peluncuran website perpustakaan para Presiden Indonesia.
Selain gemar membaca buku, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga banyak menulis buku dan opini. Beberapa karya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono adalah Selalu Ada Pilihan, Transforming Indonesia: Selected International Speeches, Revitalizing Indonesian Economy: Business, Politics, and Good Governance, hingga Taman Kehidupan: Kumpulan Puisi.
SUMBER:
Adams, Cindy. 2011. Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Jakarta: Yayasan Bung Karno
Makmur Makka, A. 2009. The True Life of Habibie Cerita di Balik Kesuksesan. Depok: Pustaka Ilman
Pour, Julius, dkk. 2014. Presiden Republik Indonesia 1945-2014. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Rifai, Muhammad. 2020. Gus Dur: Biografi Singkat 1940-2009. Yogyakarta: GARASI
Setiawan, Andri. (2020, 25 November) “Buku dan Perjalanan Intelektual Sukarno”. Diakses pada tanggal 6 April 2026, dari https://www.historia.id/article/buku-dan-perjalanan-intelektual-sukarno-pgana
Sitompul, Martin. (2018, 6 Juni) “Bung Karno dan Buku”. Diakses pada tanggal 6 April 2026, dari https://www.historia.id/article/bung-karno-dan-buku-dweg1
Zuhriah, Nila. (2020, 29 Desember) “Gus Dur Gemar Membaca Berbagai Buku Sejak Remaja”. Diakses pada tanggal 6 April 2026, dari https://jateng.nu.or.id/regional/gus-dur-gemar-membaca-berbagai-buku-sejak-remaja-ncy21
Artikel
Di Balik Gaya Busana Sukarno: Antara Kharisma, Wibawa, dan Kepemimpinan
Penulis: Arie Januar
Pada era pergerakan nasional hingga pasca kemerdekaan Republik Indonesia, Sukarno dikenal sangat memperhatikan penampilan. Setelan jas, celana, dasi, hingga peci kerap digunakan dalam berbagai aktivitas keseharian. Dari beberapa tokoh nasional, Sukarno dikenal sangat apik dalam menentukan pilihan busana, mulai dari rupa pakaian hingga warna, sehingga terlihat rapi dan elegan.
Gaya busana yang melekat menjadi simbol kekuatan pada dirinya. Bahkan gaya busananya menjadi trend mode pria di Indonesia pada masa pergerakan nasional. Bagi Sukarno busana bukan hanya berfungsi sebagai penutup tubuh, melainkan juga dimensi simbolik yang berkaitan dengan kharisma dan kewibawaan seorang pemimpin.
Sukarno sangat meyakini bahwa gaya berbusana menunjukan derajat seseorang. Oleh karena itu, penampilan seorang pemimpin harus mampu memperlihatkan martabat dan kepercayaan diri. Selain itu, dengan gaya busana ini Sukarno juga ingin menunjukkan bahwa Indonesia sejajar dengan negara-negara lain di dunia.
Gaya busana Sukarno menjadi salah satu media komunikasi non verbal yang berfungsi membangun citra kharismatik dan nasionalisme. Droogsma dalam Adler (2020), mendeteksi komunikasi non verbal menjadi beberapa indikator. Salah satunya adalah pakaian atau busana. Selain berfungsi melindungi tubuh, busana juga digunakan untuk memberikan makna atau pesan bagi yang melihatnya. Gaya komunikasi ini turut mempengaruhi mentalitas Sukarno dalam menentukan sikap dan tindakannya, terutama pada masa pergerakan nasional hingga saat menjadi orang nomor satu di Indonesia.
Setelan jas, dasi, dan celana merupakan penampilan standar dunia internasional. Sementara peci, dipopulerkan Sukarno sebagai identitas nasionalisme Indonesia. Bagi Sukarno, penampilannya ini lebih kepada insting, selera, dan pemahamannya tentang keindahan. Dalam konteks gaya busana, Sukarno mengetahui apa yang dipakai dan dipilih, harus memiliki dampak di hadapan rakyat.
Dalam otobiografi Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat, yang ditulis oleh Cindy Adams, Sukarno mengatakan bahwa “seragam dan peci hitam adalah simbol identitasnya”. Dengan adanya seragam dapat mengangkat kepercayaan diri, bukan hanya untuk Sukarno melainkan juga untuk rakyatnya.
Dengan demikian gaya busana tidak hanya mencerminkan selera personal Sukarno, melainkan juga menjadi strategi simbolik untuk membangun citra kepemimpinan, nasionalisme, dan kepercayaan diri bangsa Indonesia di mata dunia.
Sumber:
Adler, R. B., dkk. (2010). Understanding Human Communication (Agus Darma (Trans) (ed.)). Jakarta: Erlangga.
Adams, C. (2014). Bung Karno penyambung lidah rakyat Indonesia (Edisi revisi). Jakarta: Yayasan Bung Karno bekerja sama dengan Media Pressindo.
Lilis, 2021. Fashion Bung Karno, Sejajarkan Indonesia di Dunia Internasional. Dalam https://sinpo.id/detail/17332/fashion-bung-karno-sejajarkan-indonesia-di-dunia-internasional, diakses 26 Maret 2026.
Martin Sitompul. 2021. Ketika Para Perwira Mengkritik Penampilan Sukarno. Dalam https://www.historia.id/article/ketika-para-perwira-mengkritik-penampilan-sukarno-pyjar, diakses 26 Maret 2026
Monika Novena, dkk. 2021. Di Balik Penampilan Necis Soekarno: Paling Suka Baju Warna Cokelat, Abu-abu dan Putih. https://www.kompas.com/sains/read/2021/08/17/160300223/di-balik-penampilan-necis-soekarno–paling-suka-baju-warna-cokelat-abu-abu?page=all.
Berdikari Online. Sukarno dan pakaian “uniform”. (n.d.). https://www.berdikarionline.com/soekarno-dan-pakaian-%E2%80%9Cuniform%E2%80%9D/, diakses tanggal 13 Maret 2026.
Tim Litbang MPI. 2021. Deretan filosofi barang yang dikenakan Soekarno. Dalam https://news.okezone.com/read/2021/08/17/337/2456512/deretan-filosofi-barang-yang-dikenakan-soekarno?page=2, diakses tanggal 13 Maret 2026
Putu Hendra Mas Martayana. 2019. Necisme Bung Karno, Gerakan Busana Melawan Kolonialisme Barat. Dalam https://tatkala.co/2019/08/18/necisme-bung-karno-gerakan-busana-melawan-kolonialisme-barat/. Diakses 26 Maret 2026
Artikel
Melihat Indonesia dari Kitab Negarakertagama
Penulis: Nurul Aini
Wilayah Nusantara dahulu pernah meliputi hingga sebagian negara Asia Tenggara semasa pemerintahan Kerajaan Majapahit. Peta wilayah kekuasaan Majapahit ini dilukiskan dengan apik oleh pelukis kontemporer Eddy Susanto yang karyanya dipamerkan di Museum Kepresidenan RI Balai Kirti. Bila dilihat sepintas, tidak tampak adanya perbedaan dengan wilayah Nusantara masa kini. Eddy menggunakan perbedaan warna pada peta untuk menggambarkan batas antara wilayah kerajaan dan non-kerajaan. Cakupan wilayah kerajaan Majapahit ini diambil dari Kitab Negarakertagama, sebuah kitab sastra Jawa Kuno yang ditulis oleh seorang pujangga pada masa itu. Inkripsi teks kitab ini secara detail dituliskan di atas lukisan peta Nusantara dalam 3 tulisan; aksara Jawa Kuno, transliterasi Jawa Kuno, dan Bahasa Indonesia. Sebagai seorang pelukis yang karya-karyanya sangat kental dengan sejarah, Eddy berhasil menggabungkan guratan artistik lukisan, aksara, dan nilai sejarah dengan sangat indah. Lukisan Peta Indonesia dengan Kitab Negarakertagama ini merupakan salah satunya.
Lalu apa hubungannya dengan tema kepresidenan di museum?
Kitab Negarakertagama, sebuah kitab sastra Jawa Kuno yang berusia lebih dari 600 tahun ini digubah oleh Mpu Prapanca, seorang pujangga atau kawi Kerajaan Majapahit. Kitab ini berisi kakawin atau kidung-kidung pujian untuk memuja keagungan Majapahit dan Raja Hayam Wuruk yang ketika itu bertahta. Kitab ini juga dikenal sebagai Kitab Desawarnnana yang namanya diambil dari kata desa yang berarti daerah atau wilayah-wilayah dan warnnana yang berarti deskripsi, pelukisan, penceritaan, bentuk, penampilan, dan warna. Nama tersebut menggambarkan isi dari kitab itu sendiri, dimana dalam kidung-kidungnya diceritakan perjalanan Raja Hayam Wuruk yang berhasil menyatukan seluruh wilayah Nusantara (Jawa, Madura, Bali, Lombok, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Maluku, hingga Irian) dan wilayah di luar Nusantara (Tumasik dan Brunei) dibawah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Mpu Prapanca menulis kakawin ini di atas lembaran daun lontar menggunakan aksara Jawa Kuno yang tersusun dengan rapi. Namun kini alih aksara media kakawin hingga terjemahan Bahasa Indonesia telah banyak diterbitkan, utamanya dengan tujuan melestarikan sejarah peradaban bangsa.
Peradaban Nusantara yang dahulu pernah jaya hingga ke negeri seberang menjadi salah satu penyulut semangat Presiden Sukarno dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Kejayaan Majapahit yang dahulu pernah menyatukan Nusantara, mengilhami Sukarno bahwa Indonesia mampu merdeka dari belenggu penjajahan dengan perjuangan bangsanya sendiri. Semangat ini yang beliau refleksikan dalam setiap langkah politik, diplomasi, dan orasi-orasi yang berhasil membangkitkan semangat persatuan bangsa. Di dalam pledoi Indonesia Menggugat pada sidang kolonial Belanda, Sukarno juga menyinggung kejayaan kerajaan-kerajaan Indonesia ini.
“Siapakah orang Indonesia yang tidak hidup semangat nasionalnya, kalau mendengarkan riwayat tentang kebesaran kerajaan Melayu dan Sriwijaya, tentang kebesaran Mataram yang pertama, kebesaran zaman Sindok dan Erlangga dan Kediri dan Singasari dan Majapahit…..”
Sejarah nasionalisme Sukarno ini yang menginspirasi Eddy Susanto melahirkan karya lukis ini. Semangatnya dalam mendokumentasikan sejarah melalui media seni lukis beliau harapkan dapat menjadi knowledge art yang memantik diskusi, perbincangan, dan menjadi arsip sejarah Indonesia. Sejarah yang dihidupkan dalam karya lukis ini juga membawa keyakinan sang pelukis bahwa negara ini hebat dan memiliki potensi yang besar untuk terus maju.
Sumber:
Alit, D.M., dkk. (2022). Negarakertagama: Kisah Keagungan Kerajaan Majapahit. Jurnal Nirwasita, 3(1), 31-42.
Kleden, L., dkk. (2025). Tafsir karya-karya Sukarno Telaah Hermeneutis atas Surat dan Tonil di Ende. Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Jakarta. https://bpip.go.id/public/buku/wp-content/uploads/2025/06/Tafsir-Karya-Sukarno-Final.pdf
Pradita, L.E., Jendriadi. (2023). Analisis Wacana Kritis Buku Kakawin Negarakertagama Karya Mpu Prapanca. Journal of Education Research, 4(4), 2011-2024.
Soekarno. Indonesia Menggugat.
Artikel
Sejarah Tunjangan Hari Raya: Dari Pinjaman Hingga Hadiah Lebaran
Penulis: Kurniawan Ivan Prasetyo
Tunjangan Hari Raya (THR) merupakan pendapatan tambahan di luar gaji yang diperoleh pekerja dalam rangka menyambut hari raya. Pendapatan tambahan yang berbentuk tunjangan tersebut merupakan hak bagi setiap pekerja yang sudah diatur dalam Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 6 Tahun 2016. Peraturan yang memberi perlindungan kepada para pekerja untuk mendapat THR melalui proses yang cukup panjang dari masa ke masa.
Asal mula THR dalam dunia ketenagakerjaan di Indonesia berawal pada masa Presiden Sukarno tahun 1951. Kepala Pemerintahan saat itu, Perdana Menteri Soekiman, memberikan uang persekot yang tidak lain merupakan “pinjaman” yang dicicil melalui gaji tiap bulannya, dan ditujukan hanya untuk pegawai negeri. Hal tersebut bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pokok para pegawai negeri dalam menyambut hari raya.
Landasan hukum pemberian uang persekot ini adalah Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1954. Dalam Peraturan Pemerintah tersebut diatur bahwa hari raya terdiri dari: Idulfitri, 1 Januari, Galungan yang dirayakan dalam bulan September, dan Imlek. Teknis pembayaran uang persekot dan pungutan kembali uang persekot juga diatur secara jelas dalam Peraturan Pemerintah tersebut. Pungutan kembali uang persekot dilakukan melalui enam angsuran dengan memotong gaji pegawai yang bersangkutan setiap bulan, dimulai dengan bulan sesudah bulan persekot dibayarkan.
Dalam proses pengembalian uang persekot saat itu, terdapat kisah menarik dimana banyak pegawai yang tiba-tiba melarikan diri untuk menghindari tagihan. Hal tersebut terekam dalam Keputusan Presiden Nomor 20 Tahun 1957. Latar belakang lahirnya Keputusan Presiden tersebut karena beberapa pekerja tetap dari Balai Penyalidikan Peternakan Cabang Grati di Mojokerto yang masih mempunyai sisa persekot lebaran tahun 1953 sejumlah Rp. 259.- telah melarikan diri dengan tidak meninggalkan alamat sehingga Kepala Balai tersebut tidak dapat memungut piutang dari pekerja-pekerja tersebut.
Kebijakan pemberian tunjangan hari raya kepada pegawai negeri tersebut ternyata membuat para pekerja swasta hingga buruh pabrik melayangkan aksi protes. Pada 13 Februari 1952, para buruh dan pekerja swasta menggelar protes besar-besaran. Mereka menuntut pemerintah agar memberikan tunjangan yang sama seperti yang diterima para pegawai negeri.
Menindaklanjuti aksi pekerja swasta dan buruh pabrik tersebut, pemerintah melalui Menteri Perburuhan mengeluarkan surat edaran yang menghimbau perusahaan agar memberikan “Hadiah Lebaran” sebesar 1/12 dari gaji bulanan kepada para pekerja. Tahun 1961, surat edaran tersebut kemudian diperkuat menjadi peraturan resmi. Pemberian Hadiah Lebaran diwajibkan untuk pekerja yang telah memiliki masa kerja minimal 3 bulan.
Memasuki era pemerintahan Presiden Soeharto, Hadiah Lebaran atau Tunjangan Hari Raya tetap dipertahankan. Hal tersebut dibuktikan dengan dikeluarkannya sejumlah peraturan dan keputusan oleh presiden. Pada awal masa pemerintahannya, Presiden Soeharto mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 250 Tahun 1967 dan Keputusan Presiden Nomor 270 Tahun 1967, yang isinya mengatur tentang pemberian THR kepada para pegwai negeri dan pekerja swasta.
Dalam Keputusan Presiden No. 250 Tahun 1967 mengatur bahwa THR diberikan untuk pekerja yang telah memiliki masa kerja selama 3 bulan dengan nominal sekurang-kurangnya Rp.150,-. Keputusan Presiden No. 270 Tahun 1967 mengatur lebih detail nominal yang diperoleh pekerja beserta status pernikahannya. THR bagi yang belum menikah atau bujangan adalah Rp.150,- sedangkan untuk yang sudah berkeluarga Rp.300,-. Selain itu, THR tidak akan diberikan kepada para pekerja yang telah berhenti, pejabat negara/pegawai negeri yang ditempatkan di luar negeri, pejabat negara/pegawai negeri yang mengajukan cuti.
Dinamika seputar THR bagi para pekerja mulai mendapat kepastian yang jelas dengan adanya Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 6 Tahun 2016. Dalam peraturan tersebut, THR diwajibkan diberikan kepada pekerja yang telah bekerja minimal satu bulan. Jumlah THR pun disesuaikan secara proporsional berdasarkan masa kerja. Selain itu, terdapat pula sanksi tegas bagi pengusaha yang terlambat membayarkan THR kepada pekerja. Sedangkan untuk aparatur negara, pensiunan, dan penerima tunjangan, pemberian THR diatur melalui Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2025 tentang pemberian THR dan gaji ke-13 bagi PNS, PPPK, TNI, Polri, dan pensiunan. Pelaksanaan teknisnya diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 23 Tahun 2025.
Sumber:
Keputusan Presiden Nomor 20 Tahun 1957
Keputusan Presiden Nomor 250 Tahun 1967
Keputusan Presiden Nomor 270 Tahun 1967
Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1954
Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 6 Tahun 2016
Wiryono, S & Damarjati, D. (2026, 11 Maret). “Sejarah THR, Tunjangan Khas di Indonesia yang Bermula Persekot Lebaran”. Diakses pada tanggal 11 Maret 2026, dari https://nasional.kompas.com/read/2026/03/11/10010401/sejarah-thr-tunjangan-khas-di-indonesia-yang-bermula-persekot-lebaran?page=all
Artikel
Try Sutrisno dan Bulu Tangkis Indonesia
Try Sutrisno merupakan tokoh militer dan politik yang memiliki peran penting dalam sejarah Republik Indonesia, khususnya pada masa pemerintahan Presiden Soeharto (1967-1998). Hal tersebut dibuktikan dengan beberapa tugas yang dilaksanakan, mulai dari ajudan Presiden Soeharto, Pangdam IV/Sriwijaya, Pangdam V/Jaya, Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad), Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), hingga Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia (1993-1998). Namun, banyak yang belum mengetahui bahwa beliau pernah berkiprah di dunia olahraga, yakni sebagai Ketua Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI).
Selama dua periode, Try Sutrisno menjabat sebagai Ketua PBSI yaitu tahun 1985-1989 dan 1989-1993. Melalui Musyawarah Nasional (Munas) PBSI ke-14 di Surabaya tanggal 23-24 September 1985, beliau terpilih menggantikan Ferry Sonneville sebagai ketua umum PBSI. Pada masa awal kepemimpinannya, ia menghadapi tantangan berat untuk menaikkan prestasi bulu tangkis Indonesia yang saat itu sedang terpuruk. Upaya konkret yang dilakukan oleh Try Sutrisno untuk menaikkan prestasi bulu tangkis Indonesia yakni dengan mendirikan Pusat Bulu Tangkis Indonesia di Cipayung pada tahun 1992, pembinaan atlet-atlet muda, hingga pembinaan atlet-atlet di daerah.
Upaya menggenjot prestasi bulu tangkis Indonesia di dunia internasional selanjutnya membuahkan hasil dan mencapai puncaknya pada 1992 dengan memperoleh dua medali emas, dua medali perak, dan satu medali perunggu dalam Olimpiade Barcelona. Medali emas dari cabang olahraga bulu tangkis tersebut merupakan medali emas pertama bagi Indonesia selama keikutsertaannya dalam pesta olahraga Olimpiade. Medali emas tersebut diraih oleh Alan Budikusuma (tunggal putra) dan Susi Susanti (tunggal putri). Selain itu, medali perak diperoleh Ardy B. Wiranata (tunggal putra) dan pasangan Eddy Hartono / Rudy Gunawan (ganda putra). Medali perunggu diraih oleh Hermawan Susanto (tunggal putra).
Prestasi tim bulu tangkis Indonesia dalam Olimpiade Barcelona tahun 1992 tidak diraih secara instan atau bahkan kebetulan. Persiapan matang direncanakan secara sistematis dibawah komando Try Sutrisno. Pada munas PBSI di Manado 18 Desember 1989, beliau menunjuk Mangombar Ferdinand Siregar sebagai kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi (Binpres). Ia merupakan seorang teknokrat olahraga sekaligus lulusan sport science dengan gelar Master of Physical Education dari Springfield College, Massachusetts, Amerika Serikat. Siregar selanjutnya membentuk tim kepelatihan dan memberikan ruang untuk para pelatih dalam mempersiapkan tim bulu tangkis Indonesia menuju Olimpiade Barcelona 1992.
Selain keberhasilan di Olimpiade 1992, bulu tangkis Indonesia dibawah komando Try Sutrisno juga mencatatkan sejumlah prestasi dalam ajang bergengsi. Beberapa diantaranya yakni Susi Susanti juara tunggal putri All England pada 1990, 1991, dan 1993; Ardy B. Wiranata juara tunggal putra All England 1991, Hariyanto Arbi juara tunggal putra All England 1993, Tim Indonesia meraih runner-up Piala Thomas 1986 dan 1992, serta Tim Indonesia meraih runner-up Piala Uber tahun 1986.
Try Sutrisno selesai menjabat sebagai ketua PBSI pada 1993 dan digantikan oleh Soerjadi. Meskipun sudah tidak menjabat sebagai ketua PBSI, fondasi bulu tangkis yang sudah dibangun olehnya mampu membuat prestasi Indonesia semakin meningkat. Hal tersebut dibuktikan dengan berhasilnya Tim Indonesia menjadi juara dalam Piala Thomas lima kali beruntun (1994, 1996, 1998, 2000, dan 2002). Selain itu, pemusatan latihan nasional (pelatnas) Cipayung yang merupakan peninggalan Try Sutrisno juga masih aktif digunakan untuk pembinaan atlet-atlet bulu tangkis Indonesia hingga saat ini.
Sumber:
Sapthiani, Y. (2026, 2 Maret). “Try Sutrisno dan Perannya untuk Bulu Tangkis Indonesia”. Diakses pada tanggal 4 Maret 2026, dari https://www.kompas.id/artikel/try-sutrisno-dan-perannya-untuk-bulu-tangkis-indonesia.
Wirayudha, R. (2019, 22 Agustus) “Siregar Bikin Bendera Merah Putih Berkibar”. Diakses pada tanggal 4 Maret 2026, dari https://www.historia.id/article/siregar-bikin-bendera-merah-putih-berkibar-vo1lj.
CNN Indonesia. (2026, 2 Maret). “Peran Penting Try Sutrisno di Balik Sejarah Emas Olimpiade 1992. Diakses pada tanggal 4 Maret 2026, dari https://www.cnnindonesia.com/olahraga/20260302093256-170-1333244/peran-penting-try-sutrisno-di-balik-sejarah-emas-olimpiade-1992.
Artikel
Industri Sepeda di Era Presiden Soeharto: Dari ‘Kuda’ Turangga Hingga Federal yang Fenomenal
Sepeda merupakan alat transportasi yang telah ada sejak lama dan terus berkembang menjadi gaya hidup. Berbagai jenis sepeda hadir untuk menjawab perkembangan zaman sekaligus kebutuhan masyarakat akan olahraga menggunakan sepeda. Beberapa jenis sepeda yang umum digunakan oleh masyarakat antara lain: sepeda balap (road bike) untuk kecepatan, sepeda gunung (MTB) untuk medan yang berat, sepeda lipat untuk komuter atau aktivitas sehari-hari, hingga sepeda listrik yang kekinian.
Penggunaan sepeda, baik sebagai alat transportasi ataupun gaya hidup, di Indonesia begitu masif pada saat era Presiden Soeharto. Hal tersebut tak terlepas dari dukungan kebijakan Presiden Soeharto untuk mendirikan industri sepeda nasional yang dapat dijangkau oleh kalangan menengah bawah. Dua brand sepeda yang populer pada masa pemerintahan Presiden Soeharto adalah Turangga dan Federal.
Sepeda Turangga, ‘Kuda’ dari Indonesia
Produksi sepeda Turangga dimulai dari peresmian pabrik sepeda milik Induk Koperasi Pegawai Negeri (IKPN) di Batu Ceper, Tangerang oleh Presiden Soeharto pada tanggal 12 Juli 1974. Dalam acara tersebut, Presiden Soeharto memberi nama “Turangga” pada pabrik sekaligus merek dagang sepeda produksinya. Menurut Presiden Soeharto Turangga atau kuda merupakan salah satu dari lima syarat seorang laki-laki yang menurut nenek moyang untuk mengukur tingkat kesejahteraan manusia. Keempat syarat lainnya adalah wisma (rumah), wanita (istri), kukilo (burung) sebagai lambang hiburan, dan curigo (keris). Kepala kuda selanjutnya dipilih sebagai lambang sepeda.
Produksi sepeda Turangga ditujukan untuk membantu pegawai negeri di daerah-daerah yang memiliki permasalahan ekonomi terutama meningkatnya ongkos kendaraan untuk mobilitas mereka. Dengan pendirian pabrik sepeda Turangga diharapkan mampu menekan harga sepeda, sehingga terjangkau bagi anggota koperasi pegawai negeri. Dalam perkembangannya, produksi sepeda Turangga mengalami permasalahan dan berakhir merugi hingga pabrik sepeda harus dijual ke perusahaan swasta.
Federal, Sepeda Fenomenal Menlintas Zaman
Produksi sepeda Federal dilakukan oleh Astra pada tahun 1986. Astra, kala itu, melihat peluang tren bersepeda di Eropa serta berupaya untuk mengekspor produk sepeda Federal. Dalam perkembangannya, produksi sepeda Federal mencapai 500.000 unit sepeda per bulannya. Hal tersebut tidak terlepas dari tren dan gaya hidup bersepeda dikalangan masyarakat. Tren bersepeda menggunakan Federal juga diikuti oleh Presiden Soeharto. Pada saat memperingati Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September 1988, Presiden Soeharto bersama Ibu Tien Soeharto bersepeda dari kediamannya di Jalan Cendana menuju Gondangdia, Jalan Medan Merdeka Barat, hingga berakhir di Lapangan Monas.
Pada tahun 1996 produksi sepeda federal dihentikan dan selanjutnya pada tahun 1997 pabrik sepeda federal ditutup. Pabrik sepeda Federal selanjutnya diminta oleh Federal Motor untuk diganti menjadi pabrik motor. Tutupnya pabrik sepeda Federal tidak terlepas dari isu politik dumping oleh Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE). PT Federal Cycle Mustika (FCM) dianggap menjual sepeda di luar Indonesia lebih murah dibandingkan harga jual di Indonesia. Tahun 2004, MEE mencabut isu dumping sekaligus menyatakan Federal tidak melakukan isu politik dumping tersebut.
Sumber:
Team Dokumentasi Presiden RI. (2003). Jejak Langkah Pak Harto 27 Maret 1973 – 23 Maret 1978. Jakarta: PT Citra Kharisma Bunda.
Isnaeni, H. (2020, 14 Juni) “Soeharto, Astra, dan Sepeda Federal”. Diakses pada tanggal 26 Februari 2026, dari https://www.historia.id/article/soeharto-astra-dan-sepeda-federal-pdlp7.
Subyandono, E. (2022, 25 Juli). “Peresmian Pabrik Sepeda Turangga”. Diakses pada tanggal 26 Februari 2026, dari https://kompaspedia.kompas.id/baca/data/foto/peresmian-pabrik-sepeda-turangga.
Penulis: Kurniawan Ivan Prasetyo
Artikel
Ragam Pengunjung Museum Kepresidenan RI Balai Kirti Tahun 2025 (Bagian 2)
Apresiasi masyarakat melalui kunjungan ke Museum Kepresidenan RI Balai Kirti tahun 2025 terbilang cukup besar. Berdasarkan data kunjungan tercatat 54.941 orang berkunjung ke Museum Kepresidenan RI Balai Kirti selama satu tahun. Dari jumlah kunjungan tersebut dapat dilihat kategori pengunjung yang begitu beragam, mulai dari peserta didik sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, mahasiswa perguruan tinggi, masyarakat umum, hingga turis mancanegara.
Karakteristik masyarakat yang berkunjung ke Museum Kepresidenan RI Balai Kirti berdasarkan latar belakang domisili atau tempat asal juga sangat beragam, mulai dari Pulau Jawa, Sumatra, Sulawesi, Maluku, hingga Papua tercatat pernah berkunjung. Berikut rincian kunjungan Museum Kepresidenan RI Balai Kirti berdasarkan asal daerah:
| No | Asal Daerah | Jumlah |
| 1 | Bogor | 25.837 |
| 2 | Jakarta | 10.311 |
| 3 | Tangerang | 7.030 |
| 4 | Bandung | 2.992 |
| 5 | Bekasi | 2.664 |
| 6 | Depok | 2.933 |
| 7 | Sukabumi | 1.550 |
| 8 | Cimahi | 172 |
| 9 | Garut | 36 |
| 10 | Karawang | 64 |
| 11 | Brebes | 90 |
| 12 | Cilacap | 6 |
| 13 | Surakarta | 173 |
| 14 | Yogyakarta | 52 |
| 15 | Magetan | 25 |
| 16 | Ponorogo | 10 |
| 17 | Kalimantan Timur | 274 |
| 18 | Kalimantan Tengah | 124 |
| 19 | Kalimantan Selatan | 30 |
| 20 | Bengkulu | 85 |
| 21 | Sumatera Utara | 1 |
| 22 | Sumatera Selatan | 207 |
| 23 | Riau | 2 |
| 24 | Bangka Belitung | 58 |
| 25 | Jambi | 4 |
| 26 | Sulawesi Selatan | 14 |
| 27 | Sulawesi Tenggara | 15 |
| 28 | Nusa Tenggara Timur | 33 |
| 29 | Maluku | 1 |
| 30 | Papua | 34 |
| 31 | Mancanegara | 114 |

(Lima daerah dengan kunjungan paling banyak di Museum Kepresidenan RI Balai Kirti)
Berdasarkan data kunjungan dan grafik di atas, Bogor merupakan daerah yang menyumbang jumlah kunjungan terbanyak dengan 25.837 orang. Disusul kemudian Jakarta (10.311 orang), Tangerang (7.030 orang), Depok (2.933 orang), dan Bandung (2.922 orang).
Banyaknya jumlah kunjungan yang berasal dari wilayah Jabodetabek tidak terlepas dari kegiatan outing class atau studi wisata yang sering dilakukan oleh sejumlah sekolah yang berada di wilayah Jabodetabek. Apabila membaca kembali data kunjungan museum berdasarkan kategori (Ragam Pengunjung Museum Kepresidenan RI Balai Kirti Bagian 1), presentase kunjungan berdasarkan asal daerah berbanding lurus dengan jumlah kunjungan berdasarkan kategori yang didominasi oleh kalangan pelajar. Data kunjungan yang tercatat selama kurun waktu 2025 memberikan 2 gambaran sekaligus, yakni keberhasilan promosi dan publikasi museum menyasar wilayah yang ada di sekitarnya serta belum optimalnya promosi dan publikasi museum menjangkau wilayah yang lebih luas.
Masih minimnya jumlah kunjungan luar wilayah Jabotabek di Museum Kepresidenan RI Balai Kirti tahun 2025 akan dijadikan sebagai evaluasi untuk lebih memperkuat promosi dan publikasi museum. Bentuk promosi dan publikasi yang dapat dilakukan untuk menarik minat berkunjung ke museum antara lain: memperkuat kualitas dan produktivitas konten sosial media, membuat program publik rutin di museum, hingga menyelenggarakan program museum di ruang publik.
AYO ke MUSEUM!
Penulis: Kurniawan Ivan Prasetyo
Artikel
Ragam Pengunjung Museum Kepresidenan RI Balai Kirti Tahun 2025 (Bagian 1)
Optimalisasi layanan kunjungan Museum Kepresidenan RI Balai Kirti tahun 2025 telah dilaksanakan. Hal tersebut tidak terlepas dari fungsi museum untuk melindungi, mengembangkan, memanfaatkan, dan mengomunikasikannya kepada masyarakat (PP 66 Tahun 2015). Strategi konkret dalam upaya mengomukasikan koleksi Museum Kepresidenan RI Balai Kirti dilakukan dengan berbagai cara, seperti publikasi melalui sosial media, kegiatan Museum Goes To School, hingga program publik rutin. Tujuan dari optimalisasi layanan kunjungan museum adalah untuk meningkatkan apresiasi terhadap museum. Bentuk apresiasi tersebut terekam dalam data kunjungan Museum Kepresidenan RI Balai Kirti.
Tahun 2025, Museum Kepresidenan RI Balai Kirti telah mendapat apresiasi masyarakat yang berkunjung secara langsung ke museum. Kunjungan 2025 total sebanyak 54.941 orang yang terdiri dari berbagai kalangan dan asal daerah. Berikut rincian kunjungan Museum Kepresidenan RI Balai Kirti berdasarkan kategori:
| No | Kategori | Jumlah |
| 1 | Taman Kanak-Kanak | 4.188 orang |
| 2 | Sekolah Dasar | 16.936 orang |
| 3 | Sekolah Menengah Pertama | 16.618 orang |
| 4 | Sekolah Menengah Atas | 6.382 orang |
| 5 | Universitas | 1.590 orang |
| 6 | Umum | 9.113 orang |
| 7 | Mancanegara | 114 orang |


Berdasarkan grafik di atas, Museum Kepresidenan RI Balai Kirti tercatat mendapat kunjungan paling banyak dari kalangan peserta didik sekolah. Lebih spesifik lagi, kunjungan paling banyak berasal dari peserta didik Sekolah Dasar. Para pengunjung tersebut juga berasal dari berbagai daerah.
Museum Kepresidenan RI Balai Kirti memiliki potensi yang besar untuk menjadi wahana edukasi sekaligus rekreasi bagi masyarakat luas. Hal tersebut dapat dilakukan dengan pemanfaatan secara optimal koleksi yang dimiliki. Apresiasi masyarakat tahun 2025 akan menjadi acuan untuk terus meningkatkan layanan kunjungan bagi seluruh lapisan masyarakat.
AYO ke MUSEUM!
Penulis: Kurniawan Ivan Prasetyo
Artikel
Presiden Abdurrahman Wahid: Kyai Penggemar Musik Klasik
Dalam beberapa biografinya, Presiden Abdurrahman Wahid diceritakan menyukai bermacam musik klasik serta kontemporer, baik dalam negeri, maupun mancanegara. Khususnya untuk musik klasik, sang Kyai ini memiliki banyak cerita menarik terkait hal tersebut. Dari diplomasi lewat seni hingga penyesalan ketika meninggalkan Istana Merdeka.
Untuk musik kontemporer, Presiden Abdurrahman Wahid dalam beberapa riwayat diketahui menyukai bermacam genre dari lagu Timur Tengah hingga musik populer Amerika. Ketika Presiden Abdurrahman Wahid sempat menyukai Umm Kulthum, penyanyi sohor dari Mesir tempat beliau berkuliah di Universitas Al-Azhar Kairo. Presiden Abdurrahman Wahid terkesima dengan lantunan suara berikut lirik dalam lagu yang dinyanyikannya. Tidak hanya itu, penyanyi perempuan dengan suara khas seperti Janis Joplin pun Presiden Abdurrahman Wahid kagumi. Seperti ketika diwawancarai oleh Radio BBC Inggris, beliau berseloroh menyukai lagu Me and Mcgee. Begitu juga dengan musik etnis lokal Tarling, Presiden Abdurrahman Wahid sempat diriwayatkan menyukai Diana Sastra dengan lagunya Remang-Remang. Dari luasnya khazanah musik yang Presiden Abdurrahman Wahid dengar, dapat terlihat sisi lain dari sang Kyai yang condong pada keberagaman.
Namun dari sekian banyak genre musik, Presiden Abdurrahman Wahid dapat dikatakan paling menyukai musik klasik. Salah satu musik favorit beliau adalah musik gubahan Beethoven. Pada satu wawancara, ketika ditanya apa yang Presiden Abdurrahman Wahid sesalkan saat tidak lagi menjabat sebagai presiden, jawabannya beliau menyesali bahwa koleksi CD musik klasik yang jumlahnya mencapai 27 rekaman tertinggal di Istana Merdeka. Kesukaannya terhadap musik klasik terpatri hingga menjelang akhir hayatnya. Pada satu riwayat, dikisahkan bahwa Presiden Abdurrahman Wahid meminta diputarkan Simfoni No. 9 gubahan Beethoven ketika beliau sedang dalam masa kritis.
Sumber foto: NU Online
Artikel
Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie: High Tech dan High Touch
Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie atau yang lebih dikenal dengan B.J. Habibie sudah memikirkan identitas bangsa Indonesia lewat musik sejak lama. Gagasan Presiden B.J. Habibie adalah hi-tech dan high touch yang memadukan teknologi dan seni sebagai bagian penting dalam proses pembentukan identitas berbangsa.
Kedekatan Presiden B.J. Habibie dengan musik dimulai sejak beliau remaja. Lagu Bengawan Solo menjadi lagu yang dibawakan oleh beliau dan kawan-kawannya ketika mengikuti lomba keroncong. Selain itu beliau juga pernah menyanyikan lagu Jambalaya yang dipopulerkan oleh Hank Williams saat perpisahan sekolah lengkap dengan gaya koboi. Ketika mengenyam pendidikan di Aachen, Jerman, musik yang berkesan bagi B.J. Habibie berjudul Sur le Pont d’Avignon yang justru berasal dari Prancis. Kala itu, teman sekamar Habibie bernama Wardiman Djojonegoro, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1993-1998, sedang belajar berbahasa Prancis lewat lagu tersebut. Namun tanpa dinyana olehnya B.J. Habibie malah lebih dahulu fasih menyanyikannya.
Kecintaan Presiden B.J. Habibie terhadap musik sebetulnya tergambarkan lewat lagu Sepasang Mata Bola ciptaan Ismail Marzuki. Lagu tersebut sempat mengiringi beberapa peristiwa penting dalam hidupnya termasuk, pada saat beliau sendiri mengalami era revolusi kemerdekaan Indonesia. Lagu Sepasang Mata Bola pernah dinyanyikan oleh Presiden B.J. Habibie ketika Peringatan Hari Anak Nasional di Istana Merdeka 23 Juli 1998, di mana saat itu Chikita Meidy mengajak Presiden B.J. Habibie untuk menyanyikan lagu Balonku, namun Presiden B.J. Habibie justru menyanyikan lagu Sepasang Mata Bola, Chikita Meidy kaget dan kurang mengetahui lagu tersebut, namun Presiden B.J. Habibie mengajak Chikita Meidy untuk mendengarkannya dan mengajarkan lagu ini. Lagu favoritnya ini, beliau minta kepada Yazeed Djamin, komponis kenamaan Indonesia, untuk digubah guna memapankan identitas musik klasik Indonesia. Sayangnya, Yazeed Djamin lebih dahulu wafat sebelum melengkapi proses realisasi ide tersebut. Di kemudian hari, Ananda Sukarlan diminta secara langsung oleh Presiden B.J. Habibie untuk meneruskan proses komposisi yang sudah dimulai Yazeed Djamin.
Sumber foto: Arsip Nasional Republik Indonesia
Artikel
Megawati Soekarnoputri dan Pemilihan Presiden 2004
Setelah memasuki era Reformasi, untuk pertama kalinya Pemerintah Republik Indonesia menyelenggarakan Pemilihan Presiden (Pilpres) pada tahun 2004. Pilpres 2004 diselenggarakan untuk memilih pasangan Presiden dan Wakil Presiden periode 2004 sampai 2009. Pemilu Presiden pertama berlandaskan pada UU no 23 Tahun 2003 tentang pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Sebagai penyelenggara pemilu, dibentuk Lembaga independent dan mandiri Bernama Komisi Pemilihan Umum (KPU). Sementara presiden menjadi penanggung jawab pelaksanaan pemilu. Untuk mencegah tertundanya pelaksanaan pemilu, Presiden Megawati Soekarnoputri mengusulkan pembentukan KPU di daerah-daerah. Lembaga ini dinamai Perwakilan Sekretariat KPU dan didirikan di seluruh provinsi, kabupaten, dan kota. Tugas Lembaga tersebut adalah mempersiapkan administrasi pelaksanaan pemilu sembari menunggu pembahasan empat undang-undang, yakni UU Partai Politik, UU Pemilu, UU Susunan dan Kedudukan Anggota DPR, DPD, dan DPRD, serta UU Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden.
Pada masa kampanye Pilpres 2004, Megawati Soekarnoputri memainkan peran yang penting dalam upaya untuk mempertahankan posisi presiden. Sebagai petahana, Megawati menggunakan pengalaman dan popularitasnya untuk memperkuat kampanyenya dan memperjuangkan visi dan program-programnya kepada masyarakat. Megawati yang merupakan putri dari Presiden pertama Indonesia, Soekarno, saat itu memperebutkan kursi presiden dengan calon lainnya, yaitu Susilo Bambang Yudhoyono. Pada saat itu Megawati berpasangan dengan Hasyim Muzadi.
Pertarungan dalam Pilpres 2004 ini sangat ketat dan menarik perhatian publik. Megawati yang saat itu masih menjabat sebagai Presiden, menghadapi kritik atas kebijakan-kebijakannya selama memimpin negara. Namun, di sisi lain, ia juga mendapatkan dukungan dari sebagian besar partai politik dan pendukungnya. Selama kampanye, Megawati didukung oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), partai politik yang ia pimpin. Partai ini memberikan dukungan yang kuat dalam upaya memenangkan kembali posisi presiden bagi Megawati. Kemudian di tengah sorotan publik yang mengkritik kebijakan-kebijakannya selama memimpin negara, Megawati juga menyoroti prestasi dan pencapaian yang telah diraih selama kepemimpinannya. Selain itu, ia juga menekankan pentingnya stabilitas politik dan keutuhan bangsa Indonesia di tengah tantangan dan persaingan politik yang semakin ketat. Selama proses dan hasil Pilpres 2004, Megawati Soekarnoputri tetap dihormati sebagai tokoh politik yang berpengaruh dan memiliki peran penting dalam dinamika politik Indonesia.
Pemilihan presiden tahun 2004 selanjutnya diselenggarakan dalam dua putaran. Putaran pertama diikuti oleh lima pasangan calon presiden dan wakil presiden. Total pemilih terdaftar yaitu sebanyak 153.320.544 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 122.293.844 orang atau 79,76 persen menggunakan hak pilihnya. Sementara lebih dari 20 persen lainnya memilih golongan putih atau golput.
Dari total jumlah suara, sebanyak 97,84 persen atau 119.656.868 suara dinyatakan sah. Pasangan nomor urut 1, Wiranto dan Salahuddin Wahid mendapatkan suara sebanyak 26.286.788 atau 22,15 persen. Pasangan nomor urut 2, Megawati Soekarnoputri dan Hasyim Muzadi dengan suara 31.569.104 atau 26,61 persen. Sedangkan pasangan nomor urut 3, Amien Rais dan Siswono Yudo Husodo mendapatkan suara 17.392.931 atau 14,66 persen. Pasangan nomor urut 4, Susilo Bambang Yudhoyono dan Muhammad Jusuf Kalla dengan suara sebanyak 39.838.184 atau 33,57 persen. Sementara pasangan nomor urut 5, Hamzah Haz dan Agum Gumelar mendapatkan suara sebanyak 3.569.861 atau 3,01 persen.
Putara kedua pemilihan presiden 2004 diselenggarakan pada tanggal 20 September 2004 dengan mempertemukan pasangan Megawati-Hasyim Muzadi dan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla. Dari total jumlah suara, sebanyak 114.257.054 suara atau 97,94 persen dinyatakan sah. Rincia pasangan Megawati Soekarnoputri dan Hasyim Muzadi memperoleh dukungan sebanyak 44.990.704 suara atau 39,38 persen. Sedangkan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Muhammad Jusuf Kalla mendapatkan suara sebanyak 69.266.350 atau 60,62 persen. Berdasarkan hasil perolehan suara tersebut, pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla akhirnya keluar sebagai pemenang.
Meskipun tidak berhasil mempertahankan jabatan presiden, Megawati tetap aktif dalam politik Indonesia, memperjuangkan kepentingan rakyat, dan menjadi sosok yang dihormati dalam berbagai forum politik dan sosial di tanah air. Pilpres 2004 menunjukkan bahwa meskipun Megawati kalah dalam pertarungan politik, namun ia tetap merupakan tokoh yang berpengaruh dan memiliki basis dukungan yang kuat di Indonesia. Megawati tetap aktif dalam politik Indonesia dan memegang peran penting dalam partainya, yaitu Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Dengan pengalaman yang dimilikinya, Megawati terus berjuang untuk memperjuangkan kepentingan rakyat dan memperjuangkan demokrasi di Indonesia. Sebagai salah satu figur politik wanita terkemuka di Indonesia, Megawati Soekarnoputri terus memberikan kontribusi yang berarti dalam membangun negara dan memperjuangkan keadilan bagi rakyat Indonesia.
Meskipun pada akhirnya Megawati kalah dalam Pilpres 2004 dan harus menyerahkan kekuasaan kepada Susilo Bambang Yudhoyono, namun ia tetap memberikan pernyataan yang bijak dan bersikap sebagai pemimpin yang menerima hasil dengan lapang dada dan tetap memberikan dukungan untuk kelancaran pemerintahan yang baru. Sikap ini dinilai menunjukkan kedewasaan politik dan sikap yang menghormati demokrasi.
Referensi:
Pour, Julis, dkk. 2014. Presiden Republik Indonesia 1945-2014. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
https://kesbangpol.kulonprogokab.go.id/detil/930/melihat-kembali-pemilihan-umum-presiden-pilpres-pertama-di-indonesia
https://news.detik.com/berita/d-4514180/singgung-pilpres-2004-2009-megawati-waktu-kalah-saya-nggak-ribut
https://nasional.kompas.com/read/2022/02/04/06050031/pilpres-2004–pertama-dalam-sejarah-pemilihan-presiden-digelar-langsung-?page=all
Penulis: Ezano Fernando Triantaka